Cara Menggunakan Doa untuk Relaksasi Jasmani dan Penyembuhan Rohani

11

Berjuang untuk menenangkan pikiran ketika Anda mencoba berdoa? Anda mungkin terlalu memikirkannya. Daripada memaksakan suatu hubungan, cobalah teknik yang berakar pada sains dan spiritualitas. Peneliti Harvard Herbert Benson, MD, mengembangkan metode yang disebut Relaksasi Relaksasi. Ini dirancang untuk membantu Anda terbiasa berdoa dengan menurunkan detak jantung dan meredakan ketegangan.

Prosesnya sederhana. Pilihlah kata atau frasa yang mencerminkan latar belakang spiritual Anda. Ini bisa berupa “shalom”, “om”, sebuah baris dari Alkitab seperti “Tuhan adalah gembalaku”, atau “Salam Maria, penuh rahmat”. Tutup matamu. Relakskan otot Anda. Tarik napas dalam-dalam melalui hidung, dan saat Anda mengeluarkan napas melalui mulut, ulangi kalimat pilihan Anda dalam hati.

Saat pikiran-pikiran yang mengganggu muncul—dan akan muncul—lepaskan saja. Teruslah bernapas. Terus ulangi mantranya. Lakukan ini selama sepuluh hingga lima belas menit sehari. Tujuannya bukan untuk mengosongkan pikiran Anda sepenuhnya, tetapi untuk menjangkarkan diri Anda pada ritme tersebut.

Menyembuhkan Luka Keagamaan untuk Membuka Spiritualitas

Bagi banyak orang, gagasan berdoa terasa rumit karena rasa sakit di masa lalu. Joan Borysenko, peneliti di bidang ini, mencatat bahwa masyarakat sering mengabaikan agama asal mereka. Mereka mungkin masih menyimpan kemarahan terhadap hal tersebut, namun ritual tersebut tetap tertanam kuat dalam sel mereka.

“Saya telah banyak membantu orang-orang untuk menyembuhkan luka agama mereka sehingga mereka tidak membuang bayi tersebut bersama air mandinya,” kata Borysenko.

Banyak yang merasa terluka oleh agama. Beberapa orang telah melihat kerugian yang ditimbulkan terhadap kelompok lain, mulai dari Inkuisisi hingga struktur patriarki. Generasi Baby Boomer, khususnya, yang mencari spiritualitas, sering kali perlu menyembuhkan luka agama ini dan memaafkan gereja atau sinagoga masa kecil mereka. Hanya dengan cara itulah mereka bisa menjadi terbuka secara rohani.

Pengampunan adalah kuncinya. Sama seperti Anda membutuhkan ketenangan pikiran dalam hubungan dengan orang lain, Anda juga membutuhkannya dalam hubungan Anda dengan Tuhan dan tempat ibadah Anda. Doa, bersama dengan musik, lilin, dan dupa, dapat menjadi jembatan untuk menyembuhkan luka-luka ini.

Musik pada dasarnya adalah “doa yang dilantunkan”. Anda mendengar sebuah lagu, dan hati Anda terbang terbuka. Tidak ada tempat yang lebih dalam bagi sel-sel Anda untuk menyerap air secara mendalam.

Ilmu di Balik Mengapa Doa Berhasil

Adakah yang tahu mengapa doa berhasil? Belum. Jawabannya mungkin terletak pada mekanika kuantum atau subatom, sebuah teori dari satu abad lalu yang menjelaskan bagaimana materi berperilaku pada tingkat paling mendasarnya.

Larry Dossey, MD, penulis Reinventing Medicine, menunjuk pada peristiwa nonlokal dalam fisika kuantum. Ketika dua partikel subatom yang pernah bersentuhan dipisahkan, perubahan pada salah satu partikel langsung berkorelasi dengan perubahan pada partikel lainnya. Hal ini terjadi tidak peduli seberapa jauh jarak mereka.

Dossey berspekulasi bahwa doa syafaat mirip dengan peristiwa nonlokal ini. Tapi itu hanya satu kemungkinan. Dia menyimpulkan bahwa kita mungkin tidak akan pernah memahami cara kerja doa sampai kita memahami kesadaran itu sendiri. “Ilmu pengetahuan tidak bisa mengukur hal-hal yang tidak dapat diukur,” katanya.

Fungsi utama doa bukan hanya untuk menyembuhkan orang sakit atau memperpanjang umur. Ini untuk mengingatkan kita akan sifat esensial kita. Bayangkan seperti apa pelayanan kesehatan modern jika kita rutin menerapkan doa dalam pengobatan suatu penyakit. Kita mungkin menemukan bahwa jawabannya bukan terletak pada datanya, melainkan pada ruang yang dalam dan sunyi di antara tarikan napas.