Virus yang pernah dianggap sebagai masalah khusus dalam industri akuakultur telah melampaui batas spesies dan menjadi penyebab penyakit mata baru yang serius pada manusia. Nodavirus mortalitas terselubung (CMNV), yang telah lama menjangkiti para petambak udang dan ikan, kini dikaitkan dengan kondisi yang dikenal sebagai uveitis anterior virus hipertensi mata persisten (POH-VAU).
Penemuan ini menandai perubahan signifikan dalam pemahaman kita tentang CMNV, yang mengubah hal tersebut dari sekedar masalah kesehatan hewan menjadi ancaman zoonosis yang terdokumentasi.
Penemuan: Melampaui Bukti Tidak Langsung
Selama bertahun-tahun, organisasi kesehatan internasional, termasuk Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), menyatakan bahwa CMNV tidak menimbulkan risiko bagi manusia. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan di Nature Microbiology telah membalikkan konsensus ini.
Para peneliti dari Chinese Academy of Fishery Sciences dan Shandong First Medical University memberikan bukti pasti mengenai keberadaan virus pada manusia melalui beberapa temuan utama:
– Kehadiran Fisik: Mikroskop elektron dan proteomik mengonfirmasi partikel virus yang secara fisik terletak di dalam jaringan iris pasien yang terkena dampak.
– Respon Kekebalan Tubuh: Seluruh 70 pasien dalam studi klinis ini dinyatakan positif memiliki antibodi terhadap virus.
– Pemodelan Hewan: Dalam eksperimen terkontrol, tikus yang disuntik CMNV mengalami gejala yang sama seperti yang terlihat pada manusia, termasuk peradangan dan peningkatan tekanan intraokular.
Pengertian POH-VAU: Gejala dan Tingkat Keparahannya
POH-VAU adalah kondisi peradangan parah yang menyerang mata. Hal ini ditandai dengan:
– Endapan keratik: Gumpalan sisa peradangan pada kornea bagian dalam.
– Atrofi iris: Menyusutnya jaringan iris.
– Tekanan intraokular tinggi: Lonjakan tekanan mata yang berbahaya dan dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Penyakit ini terkenal sulit untuk ditangani. Penyakit ini berulang, sering kali menolak perawatan medis standar, dan dapat memerlukan intervensi bedah. Dalam penelitian tersebut, sekitar sepertiga pasien memerlukan operasi glaukoma, dan satu peserta mengalami kehilangan penglihatan permanen.
Cara Virus Menyebar: Paparan dan Penularan
Studi ini mengidentifikasi hubungan yang jelas antara kontak dengan hewan air dan timbulnya penyakit. Sebagian besar pasien yang terkena penyakit ini berusia antara 45 dan 70 tahun, dengan faktor risiko utama adalah paparan yang sering dan parah terhadap hewan air dalam dua tahun sebelum penyakit ini muncul.
Mode pemaparan meliputi:
– Penanganan Langsung: Lebih dari separuh pasien menangani makanan laut dengan tangan kosong di rumah.
– Konsumsi: Sekitar 17% pasien mengonsumsi produk akuatik mentah atau setengah matang.
– Potensi Penularan dari Manusia ke Manusia: Khususnya, 16% pasien merupakan “kontak dekat” dengan individu berisiko tinggi, bukan mereka yang menangani langsung penyakit tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa virus tersebut mungkin dapat menyebar antar manusia, meskipun hal ini memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Kehadiran Global dalam Rantai Pasokan Makanan Laut
CMNV adalah virus yang sangat tangguh dan tersebar luas. Ini adalah virus RNA beruntai tunggal dengan kisaran inang yang luar biasa luas, mampu menginfeksi spesies di tujuh filum berbeda.
Prevalensi virus ini dalam pasokan pangan global mengkhawatirkan:
– Di Asia: 35% sampel udang dan 40% ikan dinyatakan positif.
– Di Tiongkok: Pengujian pasar menunjukkan tingkat infeksi antara 33% dan 62% di berbagai produk makanan laut.
– Jangkauan Global: Virus ini telah terdeteksi pada spesimen dari Amerika, Afrika, dan bahkan Antartika.
Meningkatnya Risiko Ekspansi Akuakultur
Munculnya POH-VAU terkait erat dengan pertumbuhan industri akuakultur global. Seiring dengan meningkatnya produksi makanan laut—khususnya di negara-negara Selatan—frekuensi kontak manusia dengan hewan yang terinfeksi pun meningkat.
Meskipun memasak makanan laut kemungkinan besar dapat menetralisir virus, risiko utama tetap ada pada mereka yang mengolah hewan air untuk mencari nafkah. Bagi para pekerja ini, ancamannya bukan melalui konsumsi, namun melalui kontak langsung dan tanpa perlindungan dengan lingkungan dan hewan yang terkontaminasi.
Korelasi antara peningkatan produksi akuakultur dan tingkat POH-VAU menunjukkan bahwa seiring dengan pertumbuhan industri, peluang penyebaran virus juga meningkat.
Kesimpulan: Identifikasi CMNV sebagai penyebab POH-VAU menyoroti kesenjangan kritis dalam pemantauan zoonosis. Seiring dengan meningkatnya produksi makanan laut global, perlindungan pekerja dan konsumen dari ancaman virus ini memerlukan peningkatan biosekuriti dan kesadaran yang lebih baik terhadap risiko penularan.




















