Statin adalah kelas obat yang banyak diresepkan dan dirancang untuk menurunkan kolesterol dan mengurangi risiko penyakit jantung. Namun, penelitian yang muncul menunjukkan adanya potensi trade-off: penggunaan statin dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, terutama pada individu yang sudah memiliki kecenderungan terhadap kondisi tersebut. Artikel ini mengeksplorasi bukti yang menghubungkan statin dengan diabetes, mengkaji bagaimana dosis berdampak pada risiko, dan mengklarifikasi kapan manfaat terapi statin lebih besar daripada potensi kerugiannya.
Cara Kerja Statin dan Mengapa Penting
Statin berfungsi dengan menghambat produksi kolesterol di hati, sehingga efektif menurunkan kadar kolesterol LDL (“jahat”). Penurunan LDL ini, bersamaan dengan potensi peningkatan kolesterol HDL (“baik”), menstabilkan dinding arteri dan meminimalkan pembentukan bekuan darah. Oleh karena itu, statin merupakan landasan dalam mencegah penyakit jantung, penyebab utama kematian di Amerika Serikat.
Bagi penderita diabetes tipe 2, yang menghadapi risiko kejadian kardiovaskular dua kali lipat dibandingkan dengan mereka yang tidak menderita diabetes tipe 2, statin dapat menyelamatkan nyawa. Namun, mekanisme yang sama yang melindungi terhadap penyakit jantung juga dapat mengganggu fungsi insulin.
Hubungan Antara Statin dan Resistensi Insulin
Statin dapat mengganggu produksi insulin dan cara tubuh menggunakan insulin. Resistensi insulin terjadi ketika sel menjadi kurang responsif terhadap insulin, sehingga menyebabkan penumpukan glukosa dalam aliran darah. Seiring waktu, kondisi ini dapat berkembang menjadi pradiabetes dan akhirnya menjadi diabetes tipe 2.
Sebuah studi retrospektif mengungkapkan bahwa 56% pengguna statin mengalami perkembangan diabetes (termasuk lonjakan gula darah yang berbahaya atau kebutuhan akan obat baru), dibandingkan dengan 48% non-pengguna. Terapi statin intensitas tinggi meningkatkan risiko ini sebesar 83%. Hal ini menunjukkan adanya hubungan ketergantungan dosis yang jelas: rejimen statin yang lebih kuat mempunyai risiko diabetes yang lebih besar.
Intensitas dan Dosis Statin
Efektivitas statin diukur dari kemampuannya menurunkan kolesterol LDL, dikategorikan menjadi intensitas tinggi, sedang, dan rendah. Berikut rincian dosis statin yang umum:
| Statin | Intensitas Tinggi (Penurunan LDL ≥50%) | Intensitas Sedang (Penurunan LDL 30-49%) | Intensitas Rendah (<30% Penurunan LDL) |
|---|---|---|---|
| Atorvastatin | 40–80mg | 10–20mg | T/A |
| Fluvastatin | T/A | 40 mg dua kali sehari; XL 80 mg | 20–40mg |
| Lovastatin | T/A | 40–80mg | 20mg |
| Pitavastatin | T/A | 1–4mg | T/A |
| Pravastatin | T/A | 40–80mg | 10–20mg |
| Rosuvastatin | 20–40mg | 5–10mg | T/A |
| Simvastatin | T/A | 20–40mg | 10mg |
Meta-analisis mengkonfirmasi bahwa dosis yang lebih tinggi dan statin yang lebih manjur berkorelasi langsung dengan peningkatan risiko diabetes. Semakin tinggi dosisnya, semakin besar risikonya.
Siapa yang Paling Berisiko?
Meskipun statin tidak menyebabkan diabetes pada semua penggunanya, risikonya meningkat pada mereka yang sudah memiliki kecenderungan terkena diabetes. Individu dengan kadar glukosa tinggi, trigliserida tinggi, atau obesitas sangat rentan. Bagi sebagian lainnya, risiko berlebih seringkali diabaikan.
Ashish Sarraju, “Terapi statin mengurangi risiko bahkan pada pasien diabetes, jadi secara keseluruhan, jika ada indikasi kuat untuk statin, manfaatnya lebih besar daripada risikonya.”
Menimbang Manfaat Terhadap Risiko
Para ahli sepakat bahwa untuk pasien kardiovaskular risiko tinggi, statin umumnya lebih besar daripada potensi terkena diabetes tipe 2. Faktor gaya hidup seperti olahraga, pola makan, dan pengelolaan berat badan dapat lebih mengurangi risiko ini.
Pada akhirnya, keputusan untuk menggunakan statin harus dibuat melalui konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan, dengan mempertimbangkan faktor risiko individu dan pentingnya pencegahan kardiovaskular.
Kesimpulan: Statin tetap merupakan alat penting dalam mencegah penyakit jantung, namun penggunaannya memerlukan pertimbangan cermat terhadap potensi efek samping metabolik. Dengan memahami risiko yang bergantung pada dosis dan kecenderungan individu, pasien dan dokter dapat membuat keputusan yang tepat dalam mengelola kesehatan jantung tanpa meningkatkan risiko diabetes secara tidak perlu.



















