Keto vs. Diet Mediterania: Mana yang Paling Berhasil?

13

Baik diet ketogenik (keto) maupun diet Mediterania efektif untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan penanda kesehatan seperti tekanan darah. Namun, pilihan terbaik bukanlah jawaban yang universal; itu tergantung pada seberapa baik Anda dapat mematuhi rencana tersebut seiring berjalannya waktu.

Temuan Penelitian: Wawasan Sebuah Studi Kecil

Sebuah studi tahun 2025 mengamati 26 peserta—15 peserta keto dan 11 peserta diet Mediterania—sambil mengontrol asupan kalori sekitar 1.300 per hari. Kedua kelompok mengalami penurunan berat badan, penurunan tekanan darah, pengurangan lingkar pinggang, dan peningkatan komposisi tubuh setelah tiga bulan.

Perbedaan utamanya? Kelompok keto mengalami penurunan tekanan darah malam hari yang lebih signifikan, yang mungkin menunjukkan manfaat kesehatan jantung yang lebih baik. Namun, penelitian ini dibatasi oleh ukurannya yang kecil dan kurangnya pengacakan. Peserta memilih diet mereka berdasarkan preferensi, bukan kebetulan.

Perbedaan Inti: Cara Kerja Diet Ini

Meskipun penelitian ini menunjukkan hasil yang serupa, pendekatan yang mendasarinya sangat berbeda.

  • Keto: Diet tinggi lemak dan rendah karbohidrat ini memaksa tubuh memasuki ketosis, yaitu membakar lemak sebagai bahan bakar, bukan gula.
  • Mediterania: Berfokus pada biji-bijian, buah-buahan, sayuran, dan lemak sehat, pola makan ini mencerminkan pola makan tradisional di wilayah dengan populasi berumur panjang.

Kedua diet tersebut menyebabkan penurunan berat badan melalui mekanisme yang berbeda: keto dengan menghilangkan karbohidrat dan diet Mediterania dengan mengurangi lemak jenuh sambil menekankan makanan padat nutrisi.

Mengapa Para Ahli Bersandar pada Pola Makan Mediterania

Meskipun keto berpotensi menurunkan berat badan dengan cepat dan mengontrol gula darah, para ahli sering kali merekomendasikan diet Mediterania untuk keberlanjutan jangka panjang. Pembatasan ketat Keto dapat membuat diet ini sulit untuk diikuti, dan dapat menyebabkan kekurangan serat.

Mengurangi karbohidrat juga dapat menimbulkan dampak negatif, termasuk kolesterol tinggi, masalah pencernaan, penurunan kognitif, dan “nafas keto” yang tidak menyenangkan. Diet Mediterania, meskipun memiliki risiko tersendiri (seperti asupan zat besi atau anggur merah yang lebih rendah), umumnya dianggap tidak terlalu ekstrem.

“Tidak ada makanan yang dilarang, itulah salah satu fitur [diet Mediterania] yang sangat saya hargai,” kata Lisa Moskovitz, RD, CEO NY Nutrition Group.

Diet Mediterania menawarkan manfaat yang terdokumentasi dengan baik, termasuk mengurangi peradangan, meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan risiko diabetes, pencegahan kanker, dan fungsi otak yang lebih baik.

Diet Mana yang Sebaiknya Anda Pilih?

Diet keto mungkin cocok untuk kasus-kasus tertentu, seperti penurunan berat badan sebelum operasi bariatrik, manajemen epilepsi, atau pengendalian diabetes tipe 2. Namun, diet Mediterania adalah pilihan yang cocok bagi hampir semua orang.

Saat memutuskan, pertimbangkan:

  • Tujuan jangka panjang: Apa yang ingin Anda capai?
  • Realisme: Bisakah Anda mempertahankan pola makan ini seumur hidup?
  • Kenikmatan: Apakah diet ini sesuai dengan preferensi Anda?

Berkonsultasi dengan ahli diet dapat membantu menyesuaikan rencana dengan kebutuhan pribadi Anda.

Kesimpulannya, meskipun kedua pola makan tersebut dapat membantu mengatur berat badan dan tekanan darah, pola makan Mediterania menonjol karena keberlanjutannya dan manfaat kesehatannya yang lebih luas.